Dimanakah Allah? Inilah Jawaban Dari Ulama Besar Ibnu Taimiyah






Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ahmad ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya mengenai dua orang yang berselisih tentang masalah akidah/keyakinan. Seorang di antaranya berkata, “Orang yang tidak meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit adalah orang sesat.” Sedangkan yang satunya berkata, “Sesungguhnya Allah itu tidak dibatasi oleh suatu tempat.” Padahal mereka berdua adalah sama-sama pengikut mazhab Syafi’i. Maka, jelaskanlah kepada kami tentang akidah Imam Syafi’i radhialahu ‘anhu yang kami ikuti dan bagaimanakah akidah yang benar?
 
Jawaban Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

Segala puji bagi Allah, keyakinan Asy Syafi’i rahimahullah dan keyakinan para pendahulu Islam seperti Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan juga menjadi keyakinan para guru yang ditiru seperti Fudhail bin ‘Iyadh, Abu Sulaiman Ad Darani, Sahl bin Abdullah At Tusturi dan selain mereka adalah sama. Sesungguhnya di antara ulama tersebut dan yang seperti mereka tidak terdapat perselisihan dalam pokok-pokok agama.

Begitu pula Abu Hanifah rahmatullahi ‘alaihi, sesungguhnya keyakinan beliau dalam masalah tauhid, takdir dan perkara lainnya adalah sesuai dengan keyakinan para ulama di atas. Sedangkan keyakinan yang dipegang oleh para ulama itu adalah keyakinan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, itulah keyakinan yang dikatakan oleh Al Kitab dan As Sunnah. Asy Syafi’i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

الحمد لله الَّذِي هُوَ كَمَا وصف بِهِ نفسه، وفوق مَا يصفه بِهِ خلقه.

“Segala puji bagi Allah yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri.Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.”

Dengan demikian beliau rahimahullah menerangkan bahwa Allah itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shalalallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Allah tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rasul-Nya shalalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

لَيْسَ كمثله شيء وَهُوَ السميع البصير

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya.

Kemudian beliau berkata:

Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy;

Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa;

Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas.

Dan Ibnu Abbas telah berkata,

لَيْسَ فِي الدُّنْيَا مما فِي الآخرة إِلاَّ الأسماء.

Tidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.”
Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

Allah telah menamai diri-Nya Hayyan ‘Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samii’an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Ra’uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Allah itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Allah tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Allah tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Allah tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Allah tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Allah tidak seperti kasih sayang makhluk.

Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer:

“Di mana Allah?”

Budak tersebut menjawab,

“(Allah) di atas langit.”

Akan tetapi bukan berarti maknanya Allah berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Allah berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya.

Dia bersemayam (tinggi) di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

Malik bin Anas pernah berkata:

إن الله فَوْقَ السماء، وعلمه فِي كلّ مكان

“Sesungguhnya Allah berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.”

Maka barang siapa yang meyakini Allah berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Allah membutuhkan ‘Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bid’ah dan jahil (bodoh).

http://3.bp.blogspot.com/-lZdcKuUWahw/VT-wzkfsH5I/AAAAAAAAEow/3doaN3OL1Ao/s1600/Foto-Langit-01.jpg

Barang siapa yang meyakini kalau di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas ‘Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Mu’aththil Fir’auni (penolak sifat Allah dan pengikut Fir’aun), sesat dan pembuat bid’ah.

Ibnu Taimiyah berkata setelah penjelasan yang panjang, Orang yang mengatakan,

“Barang siapa tidak meyakini Allah di atas langit adalah sesat”, jika yang dimaksudkan adalah “barang siapa yang tidak meyakini Allah itu di dalam lingkup langit sehingga Allah terbatasi dan diliputi langit” maka perkataannya itu keliru. Sedangkan jika yang dimaksudkan dengan ucapan itu adalah “barang siapa yang tidak meyakini apa yang tercantum di dalam Kitab dan Sunnah serta telah disepakati oleh generasi awal umat ini dan para ulamanya -yaitu Allah berada di atas langit bersemayam di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya- maka dia benar. Siapa saja yang tidak meyakininya berarti mendustakan Rasul shalalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti selain orang-orang yang beriman. Bahkan sesungguhnya dia telah menolak dan meniadakan Tuhannya; sehingga pada hakikatnya tidak memiliki Tuhan yang disembah, tidak ada Tuhan yang dimintainya, tidak ada Tuhan yang ditujunya.”

Padahal Allah menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru:

“Ya Allah!!” kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

Ahlu ta’thil dan ta’wil(penolak dan penyeleweng sifat Allah) memiliki syubhat dalam hal ini. Mereka benturkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam dengan syubhat ini, mereka tentang kesepakatan salaful ummah dan para ulama. Mereka tentang fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada hamba-hambaNya, mereka tentang sesuatu yang telah terbukti dengan akal sehat. Dalil-dalil ini semua bersepakat bahwa Allah itu berada di atas makhluk-Nya, tinggi di atasnya. Keyakinan semacam ini Allah anugerahkan sebagai fitrah yang dimiliki oleh orang-orang tua bahkan anak-anak kecil dan juga diyakini oleh orang badui; sebagaimana Allah menganugerahkan fitrah berupa pengakuan terhadap adanya (Allah) Pencipta Yang Maha tinggi. Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits shahih:

كلّ مولود يولد عَلَى الفطرة؛ فأبواه يهودانه، أَوْ ينصّرانه، أَوْ يمجسانه، كَمَا تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هَلْ تحسّون فِيهَا من جدعاء؟

“Semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah; Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor binatang melahirkan anak dengan utuh tanpa ada anggota tubuh yang hilang, apakah menurutmu ada yang hilang telinganya (tanpa sebab sejak dari lahirnya)?” 

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Jika kalian mau bacalah,

فطرة الله الَّتِي فطر النَّاس عَلَيْهَا، لاَ تبديل لخلق الله

“Itulah fitrah Allah yang manusia diciptakan berada di atasnya, tidak ada penggantian dalam fitrah Allah.” 

Inilah maksud dari perkataan Umar bin Abdul ‘Aziz:

“Ikutilah agama orang-orang badui dan anak-anak kecil yang masih asli, yakinilah fitrah yang telah Allah berikan kepada mereka, karena Allah menetapkan bahwa fitrah hamba fitrah dan untuk memperkuat fitrah bukan untuk menyimpangkan dan juga bukan untuk mengubahnya.”
Sedangkan musuh-musuh para Rasul seperti kaum Jahmiyah Fir’auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Allah berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.
Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya shalalallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang mengetahui bantahan syubhat mereka hendaklah dia menjelaskannya, namun barang siapa yang tidak mengetahuinya hendaknya tidak berbicara dengan mereka dan janganlah menerima kecuali yang berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, sebagaimana yang difirmankan Allah,

وَإِذَا رأيت الَّذِينَ يخوضون فِي آياتنا فأعرض عنهم حتّى يخوضوا فِي حديثٍ غيره

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Kami maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mengganti pembicaraan.”

Barang siapa berbicara tentang Allah, Nama dan Sifat-Nya dengan pendapat yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka dia termasuk orang-orang yang mempermainkan ayat-ayat Allah secara batil.
Kebanyakan dari mereka itu menisbatkan kepada para ulama kaum muslimin pendapat-pendapat yang tidak pernah mereka katakaberbagai hal yang tidak pernah mereka katakan, kemudian mereka katakan kepada para pengikut imam-imam itu: inilah keyakinan Imam Fulan; oleh karena itu apabila mereka dituntut untuk membuktikannya dengan penukilan yang sah dari para imam niscaya akan terbongkar kedustaannya.

Asy Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada Ahli ilmu kalam (baca: ahli filsafat) menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al Kitab dan As Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’”
Abu Yusuf Al Qadhi berkata, “Barang siapa menuntut ilmu agama dengan belajar ilmu kalam dia akan menjadi zindiq (baca: sesat).”
Ahmad mengatakan “Tidak akan beruntung orang yang menggeluti ilmu kalam.”

Sebagian ulama mengatakan: Kaum mu’aththilah/penolak sifat Allah itu pada hakikatnya adalah penyembah sesuatu yang tidak ada, sedangkan kaum mumatstsilah/penyerupa sifat Allah dengan sifat makhluk itu adalah penyembah arca. Mu’aththil itu buta, dan mumatstsil itu rabun; padahal agama Allah itu berada antara sikap melampaui batas/ghuluw dan sikap meremehkan.
Allah ta’ala berfirman,
وكذلك جعلناكم أمّة وسطاً
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.” 

Posisi Ahlusunnah di dalam Islam seperti posisi Islam di antara agama-agama.

Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

(Majmu’ Fatawa V/256-261)
***
Dialihbahasakan oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

komentar :


Selengkapnya

Mengapa Dajjal Tidak Disebutkan Secara Langsung dalam Al-Quran?


DALAM bahasa Arab, istilah dajjal lazim digunakan untuk menyebut “nabi palsu”. Namun, istilah ad-Dajjal, yang dimaksudkan di sini merujuk pada sosok “pembohong” yang muncul menjelang dunia berakhir atau kiamat. Sosok itu juga disebut sebagai al-Masih ad-Dajjal; yang dimaksudkan di sini adalah “Al-Masih Palsu”. Menurut beberapa sumber, istilah ini berasal dari istilah Syria, yakni Meshiha Deghala yang telah menjadi kosakata umum di Timur Tengah selama lebih dari 400 tahun sebelum al-Qur’an diturunkan.






Dalam kamus Lisân al-‘Arab, dikemukakan bahwa Dajjal berasal dari kata dajala, artinya menutupi. Mengapa dikatakan menutupi? Karena ia adalah pembohong yang akan menutupi segala kebenaran dengan kebohongan dan kepalsuannya. Dikatakan “menutupi” karena Dajjal kelak akan menutupi bumi dengan jumlah pengikutnya yang sangat banyak. Ada juga yang berpendapat bahwa Dajjal kelak akan menutupi manusia dengan kekafiran atau ingkar terhadap kebenaran yang datangnya dari Allah Swt.

Menurut Al-Qur’an

Lalu, siapakah sesungguhnya Dajjal menurut rujukan utama dan pertama kita dalam menggali berbagai informasi, utamanya berkaitan dengan agama, yakni al-Qur’an al-Karim? Sayangnya, kata Dajjal ini tidak disebut secara langsung di dalam al-Qur’an. Namun, sumber kedua kita, yakni hadits Nabi Muhammad Saw. banyak menginformasikan tentang Dajjal ini.

Mengapa Dajjal tidak disebut secara langsung di dalam al-Qur’an? Pertanyaan ini perlu kita jawab terlebih dahulu sebelum menelusuri informasi tentang Dajjal dari hadits Nabi Saw. Jawaban yang sesungguhnya, sudah barang tentu, hanya Allah Swt. Yang Maha Mengetahui. Namun, para ulama memberikan pendapat mengenai hal ini.

 http://4.bp.blogspot.com/-XejRUSH-DOk/UB4fXm9K3_I/AAAAAAAABDs/A2KR--voUvI/s320/Dajjal.jpg

Penyebutan Dajjal di dalam al-Qur’an sudah termasuk dalam kandungan ayat sebagai berikut:
“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).” (QS al-An’âm [6]: 158).

Dalam surat al-An’âm ayat 158 di atas disebutkan “tanda-tanda atau ayat Tuhanmu”, yang dimaksudkan adalah tanda-tanda kiamat, dalam hal ini adalah munculnya Dajjal. Sebab, disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Tiga hal apabila telah muncul (terjadi) maka tiada bermanfaat lagi sebuah keimanan bagi seorang yang belum beriman (sebelumnya): Dajjal, dâbbah, dan terbitnya matahari dari arah barat.”

Ada yang berpendapat bahwa tidak disebutkannya Dajjal secara langsung di dalam al-Qur’an adalah sebagai bentuk penghinaan kepada Dajjal yang di akhir zaman mengakui diri sebagai Tuhan. Hal ini berbeda dengan disebutkannya Fir’aun di dalam al-Qur’an, meski dia telah mengakui diri sebagai Tuhan, karena Fir’aun telah habis atau selesai masanya sehingga hal ini dapat sebagai peringatan atau pelajaran bagi umat manusia setelahnya. Namun, Dajjal akan hidup di akhir zaman dan akan menjadi ujian bagi umat manusia.

Demikianlah di antara jawaban dari para ulama tentang tidak disebutkannya Dajjal secara langsung di dalam al-Qur’an.

Sumber

komentar :


Selengkapnya

Hati-hati! ILMU FILSAFAT, MENJADI PERUSAK AKIDAH ISLAM


https://2.bp.blogspot.com/-P4bohGBnFF8/VvfWlEPUbWI/AAAAAAAAADc/fw8BQLeLUs0ZkjQgedrOb5h2kY3GQiiew/w1200-h630-p-nu/filsafat.jpg

Oleh : Ustadz Abu Minhal

Sebagian ahlul ahwa wal bida’ (orang-orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan pelaku bid’ah, golongan menyimpang dalam Islam) mengklaim bahwa ilmu-ilmu ilahi (akidah) itu masih ghâmidhah (kabur dan tak terpahami). Menurut mereka, tidak mungkin dimengerti kecuali melalui jalan ilmu manthiq dan filsafat. Bertolak dari sinilah kemudian mereka (kaum Mu’tazilah dan yang sepaham dengan mereka sampai era sekarang) mengadopsi ilmu filsafat untuk dijadikan sebagai perangkat pendukung untuk mendalami akidah Islam.[1]

ASAL MUASAL KATA FILSAFAT

Jelas-jelas kata filsafat bukan asli dari bahasa Arab. Apalagi dalam kamus syariat Islam. Ia berasal dari Yunani, negeri ‘para dewa’ yang disembah oleh manusia. Terbentuk dari dua susunan, filo yang bermakna cinta dan penggalan kedua sofia yang bermakna hikmah. Pengertian yang terbentuk dari paduan dua kata itu memang cukup menarik.

Sebagian mendefinisikan sebagai upaya pencarian tabiat (karakter) segala sesuatu dan hakekat maujûdât (hal-hal yang ada di dunia ini). Filsafat fokus pada pengerahan usaha dalam mengenali sesuatu dengan pengenalan yang murni. Apapun obyeknya, baik perkara ilmiah, agama, ilmu hitung atau lainnya.[2]

Akan tetapi, perkara terpenting yang tidak boleh dilupakan, bahwa tempat asal lahirnya kata itu adalah negeri Yunani dan keyakinan kufur generasi pertama ahli filsafat yang menjadi rujukan filsafat dunia, sudah cukup bagi kaum Muslimin untuk berhati-hati dan mengesampingkannya dari tengah umat, karena berasal dari negeri dan kaum yang tidak beriman kepada Allâh , kaum yang menyembah para dewa.

Kecurigaan terhadap output filsafat mesti dikedepankan. Doktor ‘Afâf binti Hasan bin Muhammad Mukhtâr penulis disertasi berjudul Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil ‘Aqîdah’ menyatakan, dari sini menjadi jelas bahwa filsafat merupakan pemikiran asing yang bersumber dari luar Islam dan kaum Muslimin, sebab sumbernya berasal dari Yunani [3]

ILMU FILSAFAT TIDAK ADA DALAM GENERASI SALAFUL UMMAH

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah menceritakan, “Orang-orang yang muncul setelah tiga masa yang utama terlalu berlebihan dalam kebanyakan perkara yang diingkari oleh tokoh-tokoh generasi Tabi’in dan generasi Tabi’it Tabi’in.

Orang-orang itu tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dipegangi generasi sebelumnya sehingga mencampuradukkan perkara-perkara agama dengan teori-teori Yunani dan menjadikan pernyataan-pernyataan kaum filosof sebagai sumber pijakan untuk me’luruskan’ atsar yang berseberangan dengan filsafat melalui cara penakwilan, meskipun itu tercela. Mereka tidak berhenti sampai di sini, bahkan mengklaim ilmu yang telah mereka susun adalah ilmu yang paling mulia dan sebaiknya dimengerti”.[4]

Karena itulah, kaum Mu’tazilah dan golongan yang sepemikiran dengan mereka tidak bertumpu pada kitab tafsir ma’tsur, hadits dan perkataan Salaf. Perkataan al-Hâfizh merupakan seruan yang tegas untuk berpegang teguh dengan petunjuk Salaf dan menjauhi perkara baru yang diluncurkan oleh generasi Khalaf yang bertentangan dengan petunjuk generasi Salaf.[5]

Syaikhul Islam rahimahullah mendudukkan, bahwa penggunaan ilmu filsafat sebagai salah satu dasar pengambilan hukum adalah karakter orang-orang mulhid dan ahli bid’ah. Karena itu, terdapat pernyataan Ulama Salaf yang menghimbau umat agar iltizam dengan al-Qur`ân dan Sunnah dan memperingatkan umat dari bid’ah dan ilmu filsafat (ilmu kalam).[6]


ULAMA BICARA TENTANG BAHAYA ILMU FILSAFAT

Melalui ilmu filsafatlah, intervensi pemikiran asing masuk dalam Islam. Tidaklah muncul ideologi filsafat dan pemikiran yang serupa dengannya kecuali setelah umat Islam mengadopsi dan menerjemahkan ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani melalui kebijakan pemerintahan di bawah kendali al-Makmûn masa itu.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Adapun sumber intervensi pemikiran dalam ilmu dan akidah adalah berasal dari filsafat. Ada sejumlah orang dari kalangan ulama kita belum merasa puas dengan apa yang telah dipegangi oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu merasa cukup dengan al-Qur`ân dan Sunnah. Mereka pun sibuk dengan mempelajari pemikiran-pemikiran kaum filsafat. Dan selanjutnya menyelami ilmu kalam yang menyeret mereka kepada pemikiran yang buruk yang pada gilirannya merusak akidah”.[7]

Ketika orang sudah memasuki dimensi filsafat, tidak ada kebaikan sedikit pun yang dapat ia raih. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Jarang sekali orang mempelajarinya (ilmu kalam dan filsafat) kecuali akan terkena bahaya dari mereka (kaum filosof)”.[8]

Karena itu, tidak heran bila Ibnu Shalâh rahimahullah memvonis ilmu filsafat sebagai biang ketololan, rusaknya akidah, kesesatan, sumber kebingungan, kesesatan dan membangkitkan penyimpangan dan zandaqah (kekufuran)[9]

Begitu banyak ungkapan Ulama Salaf yang berisi celaan terhadap ilmu warisan bangsa Yunani ini dan selanjutnya mereka mengajak untuk berpegang teguh dengan wahyu.

AL-QUR’AN DAN SUNNAH SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH

Kebenaran dengan segala perangkatnya telah dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya, tanggung jawab penyampaian kebenaran dari Allâh Azza wa Jalla itu diemban oleh insan-insan pilihan sepeninggal beliau, generasi Sahabat Radhiyallahu anhum.

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah berkata, “Sebab munculnya kesesatan ialah berpaling dari merenungi kalâmullâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan menyibukkan diri dengan teori-teori Yunani dan pemikiran-pemikiran yang macam-macam” (hal. 176, tahqiq Ahmad Syâkir rahimahullah)

Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq. Tidak ada petunjuk yang benar kecuali dalam risalah yang beliau bawa. Akal manusia mustahil sanggup berdiri sendiri untuk mengenal nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Rabbnya, Dzat yang ia ibadahi. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam didelegasikan kepada umat manusia untuk memperkenalkan mereka kepada Allâh Azza wa Jalladan menyeru mereka beribadah kepada-Nya. Karenanya, kebanyakan orang yang terjerumus dalam kesesatan dalam memahami akidah yang benar adalah orang yang melakukan tafrith[10] dalam mengikuti risalah yang dibawa oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[11]

Dengan demikian, siapa saja menginginkan hidayah, utamanya dalam masalah keyakinan, hendaknya menempatkan al-Qur`ân dan petunjuk Nabi di depan mata, sehingga menjadi obor yang menerangi jalan hidupnya. Syaikhul Islam t telah menyampaikan pintu menuju hidayah dengan berkata, “Jika seorang hamba merasa butuh kepada Allâh Azza wa Jalla, kemudian senantiasa merenungi firman Allâh Azza wa Jalladan sabda Rasul-Nya, perkataan para Sahabat, Tâbi’în dan imam kaum Muslimin, maka akan terbuka jalan petunjuk baginya.”[12]

Orang yang menghantam nash al-Qur`ân dan Sunnah dengan akal, ia belum mengamalkan firman Allâh Ta’ala berikut ini:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya [an-Nisâ/4:65]

PENUTUP

Tampak dengan jelas betapa bahaya ilmu filsafat di mata Ulama sehingga mereka memperingatkan umat agar menjauh darinya. Anehnya, ilmu yang telah mengintervensi akidah Islam ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam dan kajian-kajian Islam kontemporer, bahkan menjadi mata kuliah yang wajib dipelajari. Seolah-olah seorang Muslim belum dapat memahami al-Qur`ân dan Sunnah (terutama masalah akidah) kecuali dengan ilmu filsafat. Jelas hal ini bertentangan dengan firman Allâh Azza wa Jalla:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Sesungguhnya al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus [al-Isra/17:9]

Mari simak pernyataan Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam menerangkan ayat di atas, “Dalam masalah akidah, sesungguhnya akidah yang bersumberkan al-Qur`ân merupakan keyakinan-keyakinan yang bermanfaat yang memuat kebaikan, nutrisi dan kesempurnaan bagi kalbu. Dengan keyakinan tersebut, hati akan sarat dengan kecintaan, pengagungan dan penyembahan serta keterkaitan dengan Allâh Azza wa Jalla“[13] .

Sementara Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah menyimpulkan kandungan ayat di atas dengan menyatakan bahwa pada ayat yang mulia ini, Allah k menyampaikan secara global mengenai kandungan al-Qur`ân yang memuat petunjuk menuju jalan yang terbaik, paling lurus dan paling tepat kepada kebaikan dunia dan akherat.[14]

Semoga Allâh Azza wa Jallamengembalikan umat Islam kepada hidayah-Nya. Wallâhu a’lam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Tahâful Falâsifah 84. Nukilan dari Tanâquzhu Ahlil Ahwâ wal Bida’ fil ‘Aqîdah’ 1/103. Penulis menyertakan ilmu filsafat sebagai sumber pengambilan hukum kedelapan oleh kalangan ahli bid’ah
[2]. Asbâbul Khatha` fit Tafsîr , DR. Thâhir Mahmûd Muhammad Ya’qûb 1/260
[3]. At-Tanâquzh 1/103
[4]. Fathul Bâri (13/253)
[5]. Manhaj al-Hâfizh Ibni Hajar fil ‘Aqîdah, Muhammad Ishâq Kandu 3/1446
[6]. Majmû Fatâwa 7/119
[7]. Shaidul Khâthir hlm. 226
[8]. Fadh ‘Ilmis Salaf ‘ala ‘Ilmil Khalaf hlm. 105
[9]. Fatâwa wa Rasâil Ibni ash Shalâh 1/209-212. Nukilan dari Asbâbul Khatha` fit Tafsîr 1/266
[10]. Pengertian tafrîth atau taqshîr, kurang memberikan perhatian yang layak panduan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuknya baik dengan tidak mempelajarinya atau menganggap petunjuk yang lain lebih baik.
[11]. Imam Ibnu Abil ‘Izzi t dalam mukadimah Syarh ‘Aqîdah Thahâwiyah telah menyinggung perkara ini.
[12]. Majmû Fatâwa 5/118
[13]. Al-Qawâidul Hisân al-Muta`alliqah bi Tafsîril Qur`ân, hlm. 122
[14]. Adhwâul Bayân 3/372

Ini contoh kasus nyata di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, silahkan tonton videonya, kerusakan akibat belajar filsafat,. Orang-orang yang memusuhi islam sangat diuntungkan dengan diajarkannya filsafat di kampus-kampus islam

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=5lizJRwnDPQ&rel=0]

Sumber 

komentar :


Selengkapnya

'Demi Allah saya bersumpah ! ...' ini Detik-Detik Habibie Menjadi Presiden

Pria itu mengenakan setelan warna gelap, dasi hitam kotak-kotak, dan peci hitam. Di sampingnya, Presiden Soeharto memakai setelan serba gelap. 

“Demi Allah saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden RI dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh UUD dan menjalankan segala undang-undang dan peraturan dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa,” Bachruddin Jusuf Habibie menyampaikan sumpah jabatan Presiden RI ketiga pada tanggal 21 Mei 1998. 




Sejurus dia meraih tangan Soeharto yang baru saja meletakkan jabatannya. Mereka bersalaman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seperti ada jurang pemisah diantara keduanya di di tengah-tengah Credentials Room, Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta tersbut. 

Jauh hari sebelumnya, akan sulit meramalkan peristiwa itu akan terjadi. Namun Habibie yang selalu digadang-gadang sebagai ‘anak emas’ dalam pemerintahan Soeharto, karirnya melesat di Partai Golkar. 

Pada bulan Oktober 1992, Habibie diangkat menjadi Wakil Koordinator Harian Dewan Pembina Golkar. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1993 ia menjadi Koordinator Harian. Sementara saat itu Soeharto menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar. 

Di bulan Januari 1998, BJ Habibie kembali diangkat menjadi Koordinator Harian Dewan Pembina. Perbedaanya ialah, sebagai Koordinator Harian Dewan Pembina di tahun 1993 Habibie mempunyai pengganti. Januari 1998 Habibie diangkat menjadi Koordinator Harian Tanpa Pengganti.






Profesor Politik di Nation University of Singapore, Bilveer Singh menulis bagaimana proses Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia dalam bukunya Habibie and The Democratisation in Indonesia atau Habibie dan Demokrasi di Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan oleh Crescent Design Associates ini, Singh menulis pada tanggal 20 Mei 1998 antara pukul 20:00 dan 21:00 WIB malam, Habibie melakukan pertemuan ‘empat mata’ dengan Soeharto di Cendana.

Buku yang diterbitkan tahun 2000 itu merekam, dalam pertemuan tersebut Soeharto memerintahkan Habibie menjalankan dua tugas utama. Pertama tugas yang bersifat rutin sebagai Wakil Presiden dan yang kedua mengusahakan agar ke-14 menteri ekonomi yang telah menandatangani petisi menolak ikut dalam Kabinet Pembaruan, untuk memikirkan kembali niatan mereka.

Dalam pertemuan tersebut Soeharto juga memberitahu Habibie, ia akan membuat Kabinet Pembaruan. Dan pada tanggal 23 Mei Soeharto akan menemui MPR untuk meletakkan jabatan Presiden. “Ini tidak fair, ini bukan kabinet saya dan tidak seorang pun akan menerima kepemimpinan saya,” kata Habibie pada saat itu.

Habibie bertanya kapan menjadi presiden, dengan santai  Soeharto menjawab, hal itu dapat terjadi pada tanggal 24 Mei atau 25 Mei atau seminggu kemudian atau sebulan kemudian.
“Tidak begini cara yang sebaik-baiknya dan ini juga tidak konstitisional,” katanya. Soeharto hanya menjawab ringkas “biar saya yang mengurusi itu.” Habibie pun pulang. Waktu terasa berjalan begitu cepat.

Ketika Habibie meninggalkan Cendana pada pukul 09 :00 malam itu, ia memanggil empat menteri koordinator dan 14 menteri yang menandatangani petisi menolak Kabinet Pembaruan. Pertemuan tersebut dilakukan di rumah Habibie di Jalan Patra Kuningan pukul 22:00.

Dalam pertemuan tersebut, Habibie menceritakan hasil pertemuannya dengan Soeharto. Mendengar cerita Habibie, 14 belas menteri dibawah Ginandjar Kartasasmita mau ikut kabinet berikutnya dengan syarat bukan Soeharto yang membentuk kabinet, tapi Habibie.

Namun saat Habibie menelepon Cendana pada pukul 22:45, ia diberitahu oleh Sekretaris Negara Saadilah Mursyid bahwa besok Soeharto akan mengalihkan kekuasaannya ke Habibie. Saat itulah Habibie tahu ia akan menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia.
Hari ini, Sabtu (25/6), Habibie menggenapkan usianya yang ke-80 tahun. Bukan waktu yang singkat, namun panjang waktu dalam hidup suami Hasri Ainun Besari itu banyak memberikan pelajaran bagi negara dan generasi selanjutnya


Sumber 

komentar :


Selengkapnya

Dipimpin Erdogan: 13 Tahun Lalu Turki adalah Pengemis Hutang, Kini Pemberi Bantuan




Kenapa Erdogan Menakutkan?

(1) Koran-koran Eropa tak kenal lelah menjuluki Tuan Erdogan sebagai fasis, diktator, dan penyumbat kebebasan berpendapat. Plus julukan sebagai Islamis.

(2) Sesekali mereka menampilkan penangkapan wartawan, yang telah mencaci maki Tuan Erdogan siang malam 24 jam. Caci maki yang lebih pantas disebut fitnah.

(3) Di kesempatan lain. Hizbut Tahrir melalui laman resminya, memuat tulisan Amal Erdogan dalam Sorotan. Ayat-ayat dan hadis dihadirkan. Erdogan sesat dan menyesatkan.

(4) Dua julukan yang paradoks. Tapi menuju satu target: MENYINGKIRKAN ERDOGAN dari kancah perpolitikan internasional. Erdogan menjadi the common enemy. Musuh bersama.

(5) Usut punya usut. Kebencian yang nampak di permukaan, mirip bola salju. Apa yang disembunyikan, jauh lebih besar. Mereka sepakat membenci Erdogan, sebab fakta:






(6) Erdogan adalah Bapak Pembangunan Turki di bidang ekonomi dan strategi politik. 13 tahun lalu. Turki adalah pengemis hutang. Kini pemberi bantuan.

(7) Erdogan adalah Bapak Turki Baru dengan visi 2023. Mengembalikan kejayaan Ottoman Empire, persis di hari 1 abad ulang tahun kehancurannya.

(8) Erdogan adalah Bapak Mercusuar Turki. Proyek-proyek besarnya dibangun tanpa hutang. Kini memiliki 57 bandara (4 terbesar di dunia), jembatan, jalan, infrastruktur, pertanian, wisata.

(9) Erdogan adalah Engeneer bagi peningkatan alat utama sistem persenjataan Turki. Kapal selam, kapal laut, kapal induk, pesawat tempur, helikopter, tank baja, senjata laras panjang, hingga satelit militer.

(10) Erdogan adalah Bapak Sumber Daya Insani Turki. 2007, proyek 300.000 researcher dan tim inti alih teknologi dibentuk. 9 tahun kemudian, Turki menuai hasil gemilang di bidang sains teknologi.

(11) Maka siapapun tak bisa meremehkan Turki kembali yang dulu dijuluki "The Sick Man of Europe". Eropa kini takut. Kebangkitan ekonomi Turki, berdampak pada pemiskinan Eropa. Trauma kebijakan para sultan semisal Sulaiman Qanuni, Murad II, hingga AbdulHamid II masih menyeramkan.

(12) Kepahlawanan Muhammad Al-Fatih dan sultan-sultan Utsmani di bidang militer, masih menyimpan trauma hingga saat ini. Mereka membayangkan, Turki menjadi superpower didukung spirit jihad militernya yang tak takut mati.

(13) AS saja yang jaraknya jauh dari Turki, kini berharap cemas dan was-was. Turki yang sekuler, kini telah taubat nasuha. Turki yang sakit, kini telah bangkit. Turki yang tidur, kini telah bangun dengan gagah.





(14) Wajar. Semua menanti kehancuran Erdogan. Minimal, tersingkir di gelanggang politik seperti Mursi terhempas di penjara. Namun sayang. Erdogan adalah pemain, yang paham logika musuh.

(15) Lihat tatapannya. Perhatikan gestur tubuhnya. Simak kharisma bicaranya. Catat sepak terjangnya. Hanya kalangan dungu yang keras kepala saja, yang masih miring menilai Tuan Erdogan.

(16) Saya pastikan. Akan ada komen gambar berupa foto Erdogan bersama Assad. Foto jadul, tahun 2010-2011, sebelum perang di Syiria. Atau rekaman Erdogan soal LGBT, yang juga jadul dengan terjemahan yang sudah mengalami penyimpangan.

(17) Saya tidak akan terpengaruh. Teringat di masa Mursi berkuasa. Pidato beliau dipelintir terjemahannya. Lantas jadi amunisi pembenci dakwah politik. Di-share, tanpa pernah malu.

(18) Tuan Erdogan. Doa kaum lemah, kaum yang dizhalimi bersama anda. Kami yakin, anda telah siap dengan strategi canggih. Strategi yang bukan teriakan takbir atau sebaran spanduk. Tapi strategi futuhat, dengan cinta dan senjata.

-Ust. Nandang Burhanuddin-

Sumber | republished by (YM) Yes Muslim !

komentar :


Selengkapnya

Beberapa Kiat Jitu Menghilangkan Kecanduan Nonton Film XXX


 http://4.bp.blogspot.com/-borBAez2NWU/Umcho9ihXGI/AAAAAAAABCk/02keuBRmzp4/s320/0418233620X310.jpg



Video dan film porno saat ini begitu mudah diakses. Ditambah lagi ada beberapa pembenaran yang menyatakan bahwa menontonnya masih lebih mending dibanding zina.

Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa postingan sebelumnya, sudah dibuktikan bahwa menonton film porno adalah suatu dosa atau maksiat sehingga mesti ditinggalkan.

Bagi Anda yang jadi pecandu, silakan pelajari 10 tips ini. Moga manfaat untuk menghentikan kebiasaan menonton video atau film porno.

1- Berharap pertolongan Allah lewat do’a

Yaitu kita bukan hanya melakukan sebab sebagaimana yang disebutkan dalam step-step selanjutnya. Yang utama adalah banyak berdo’a pada Allah supaya bisa disembuhkan dari kecanduan menonton film porno.
Di antara do’a yang bisa diamalkan adalah do’a yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

Syakal bin Humaid pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia meminta pada beliau untuk mengajarkannya bacaan ta’awudz yang biasa ia gunakan ketika meminta perlindungan pada Allah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan do’a dengan beliau memegang tanganku lalu beliau ajarkan, ucapkanlah,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى
Allahumma inni a’udzu bika min syarri sam’ii, wa min syarri basharii, wa min syarri lisanii, wa min syarri qalbii, wa min syarri maniyyi

(artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelakan pada pendengaranku, dari kejelakan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelakan pada mani atau kemaluanku). (HR. An-Nasa’i, no. 5446; Abu Daud, no. 1551; Tirmidzi, no. 3492. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

2- Beritahukan pada seseorang biar merasa terus diawasi

Itulah pentingnya pula punya teman yang dekat yang bisa terus mengingatkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344.
Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ 3545).

Apalagi yang terus mengingatkan adalah istri atau orang tua tentu akan lebih memudahkan dalam pertaubatan.

3- Kurangi memandang dan alihkan pandangan dari gambar-gambar porno di komputer, TV atau media lainnya

Hati-hati dengan zina mata. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim, no. 6925).

Segera palingkan pandangan jika melihat gambar yang tidak halal di pandang di Televisi, handphone atau laptop.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)

http://4.bp.blogspot.com/-esyrWMgmixU/VeJ-YmkLWkI/AAAAAAAAA9c/tjy4y2bZiEQ/s640/Bahaya%2BNonton%2BFilm%2BPorno%2BBagi%2BKesehatan%2BOtak.jpg

4- Buat target yang realistis

Misal, buat target satu minggu tidak mau menonton dulu film porno. Menetapkan target ini penting sehingga tidak kecanduan lagi.

5- Jangan buat kecewa orang sekitar gara-gara punya hobi menonton video porno

Kalau kita punya kebiasaan seperti itu, baiknya kita sadar diri. Coba perhatikan kisah berikut.

Sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina.”

Spontan seluruh sahabat yang hadir menoleh kepadanya dan menghardiknya, sambil berkata kepadanya: “Apa-apaan ini!”

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada pemuda itu, “Mendekatlah.
Pemuda itu segera mendekat ke sebelah beliau, lalu ia duduk. Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda kepadanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa ibumu?”

Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa ibu-ibu mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa anak gadismu?”

Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa anak gadis mereka.”

Selanjutnya beliau bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudarimu?”
Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpalinya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ayahmu (bibikmu)?”

Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannnya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ayah mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, “Apakah engkau suka bila perbuatan zina menimpa saudari ibumu (bibikmu)?”

Pemuda itu menjawab, “Tidak, sungguh demi Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menimpali jawabannya, “Demikian juga orang lain tidak suka bila itu menimpa saudari ibu mereka.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan lindungilah kemaluannya.”

Semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong atau zina).” (HR. Ahmad, 5: 256. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya tsiqah termasuk dalam jajaran perawi shahih)

Berikut adalah kiat-kiat lanjutan untuk menghilangkan kecanduan dari nonton film porno.

6- Ubahlah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik

Sebagian menonton film porno di tengah malam saat yang lain telah tidur. Kebiasaan ini harus berusaha diubah dengan tidur di awal malam, agar dimudahkan pula untuk bangun shubuh. Kebiasaan ini lebih bermanfaat daripada kebiasaan begadang di malam hari. Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang beraktivitas setelah Isya dalam hal yang tidak manfaat. Diriwayatkan dari Abu Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khattab sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” (Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththol, 3: 278, Asy Syamilah)

Apalagi maksiat lebih mudah terjadi di kala sepi. Disebutkan dalam hadits,

وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bisa bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).”

7- Harus tulus dan jujur meninggalkan kebiasaan menonton film porno

 http://4.bp.blogspot.com/-borBAez2NWU/Umcho9ihXGI/AAAAAAAABCk/02keuBRmzp4/s320/0418233620X310.jpg

8- Jangan merasa bangga karena sudah berhenti

Jangan terlalu bangga kalau sudah berhenti. Kalau sudah berhenti dari melihat film porno satu bulan lamanya, itu belumlah cukup. Dua bulan belum juga cukup. Coba diteruskan hingga setahun lamanya bahkan seterusnya bisa istiqamah, baru bisa katakan sukses.

Ingatlah kalau bisa istiqamah, itu benar-benar suatu karunia yang besar. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin,

أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ
“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.”

9- Harus tahu akibat buruk jika kita terus menonton video porno

Jika seseorang ingin berubah, coba ia tulis di wallpapernya, “Allah sedang melihat saya.” Ketika itu ditaruh di halaman muka laptop, computer atau handphone kita, kita pasti akan terus merasa diawasi oleh Allah sehingga akan sulit berbuat maksiat. Kalau tulisan itu terus ada, kita pasti akan terus merasa bahwa Allah tetap memperhatikan kita, termasuk saat kita sendiri. Apa lantas seperti itu mau bermaksiat dengan membuka-buka video porno?

Apalagi ia tahu bahwa ada malaikat yang selalu mencatat gerak-gerik kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

Ditambah lagi, kita harus tahu bahwa amalan itu dilihat dari akhirnya. Sebagaimana kata Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Coba seseorang mengingat konsekuensi di atas, ia akan terus diawasi oleh Allah. Kalau-kalau ia berbuat maksiat, ia pun bisa saja mati dalam keadaan menutup amalannya dengan maksiat. Kalau seseorang ingat akibat buruk ini, ia pasti akan mengurangi maksiatnya.

10- Industri yang membuat film porno benar-benar jahat

Kata Wael Ibrahim, seorang motivator yang memberikan kiat-kiat agar bisa berhenti dari menonton video porno, industri yang membuat video porno sama dengan industri yang membuat video penghinaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya sama yaitu untuk menghancurkan umat manusia.

Bila kita tahu demikian, berarti kita tidak boleh menyupport mereka mengklik video mereka. Mereka akan semakin kaya dengan itu.

Banyak faedah digali dari penjelasan Wael Ibrahim di Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=1NCANZjlb8E



Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

komentar :


Selengkapnya

Inilah Jawaban Mengapa Arab Itu Pribumi menurut Bung Karno !




  Yes  Muslim  -  *LAIN ARAB LAIN CINA…*
Pidato Bung Karno Di Semarang Tahun 1948:
“Kita kini sudah merdeka. Tentu kita harus bersyukur kepada Allah Tuhan YME.
Kita juga harus berterima kepada seluruh rakyat yang sudah berjuang untuk kemerdekaan. Karena ada warga keturunan yang juga ikut berjuang membantu perjuangan.
Kita juga harus harus berterima kasih kepada warga keturunan Cina. Kita juga harus berterima kasih kepada warga keturunan India. Tetapi kita jangan berterima kasih kepada warga keturunan Arab.
Karena …
Karena … mereka … sudah menjadi bagian dari keluarga besar bangsa kita sejak ratusan tahun yang lalu….”
Maka itu Bung Karno sendiri yang mengusulkan dan membuat PP No.10 yang disetujui MPR bahwa warga keturunan Arab diberi status Kewarganegaan ‘Stelsel pasif’ yang sama dengan warga Pribumi yaitu otomatis dianggap dan dicatat sebagai WNI.
Sedangkan warga keturunan Cina dan India dan lain-lain digolongkan ‘Stelsel Aktif’ artinya untuk jadi WNI mereka harus mendaftarkan diri dan mendapat SKBRI lebih dulu baru bisa dicatat sebagai WNI.
(Disarikan dari Disertasi Mantan Mentri Agama Prof.Dr. Mukti Ali di IAIN Sunan Kalijogo Jogjakarta tahun 1970, Pidato Bung Karno di Semarang tahun 1948 dan berbagai sumber).[lpc]



Terima Kasih sudah membaca, Jika artikel ini bermanfaat, Yuk bagikan ke orang terdekatmu. Sekaligus LIKE fanspage kami juga untuk mengetahui informasi menarik lainnya  @Tahukah.Anda.News

republished by Yes Muslim -  Portal Muslim Terupdate ! 




komentar :


Selengkapnya

YES MUSLIM - Portal Muslim Terupdate !

" Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. "
(HR. Muslim)

SHARE ARTIKEL INI 


Baca Artikel Menarik Lainnya 

Home - Artikel Terbaru - Artikel Populer - Fanpage Facebook - Twitter - Pinterest - Thumbler
Back to Top